UNIVERSITAS GUNADARMA
FAKULTAS ILMU KOMPUTER DAN TEKNOLOGI INFORMASI






PROPOSAL PENULISAN ILMIAH


APLIKASI KAMUS ISTILAH KOMPUTER BERBASIS ANDROID 2.2 (FROYO)
Nama                          :           Apriliani Fitria Puspawijaya
NPM                           :           11111023
Jurusan                        :           Sistem Informasi




Diajukan Guna Melengkapi Tugas Softskill (Bahasa Indonesia)



UNIVERSITAS GUNADARMA
2014



1. PENDAHULUAN

1.1.      Latar Belakang Masalah
Pada bidang ilmu komputer, terdapat istilah-istilah yang mungkin masih awam diketahui oleh banyak orang pada umumnya, bahkan untuk orang yang menggeluti pekerjaan pada bidang komputer. Istilah ilmu komputer merupakan kata atau gabungan kata yang mengungkapkan suatu makna, konsep, proses, dan keadaan yang berhubungan dengan ilmu komputer. Agar dapat mengetahui berbagai macam istilah komputer maka dibutuhkan kamus istilah ilmu komputer.
            Kamus istilah ilmu komputer pada awalnya dibuat dalam bentuk cetak dengan tebal halaman yang tidak sedikit. Penggunaan buku cetak seperti ini dirasa kurang efektif pada zaman sekarang ini. Sehingga diciptakanlah aplikasi kamus istilah ilmu komputer berbasis web. Dengan berbasis web, pemakai dapat mencari informasi istilah-istilah ilmu komputer dengan mudah yaitu dengan mengakses web tersebut secara online.
            Namun kamus istilah ilmu komputer berbasis web ini masih dirasa kurang efektif karena dibutuhkannya jaringan internet yang memadai untuk mengakses aplikasi tersebut. Lalu terciptalah aplikasi kamus istilah ilmu komputer pada handphone, yang merupakan aplikasi berbasis mobile. Aplikasi berbasis mobile ini dirasa lebih efektif karena selain pengguna dapat  menggunakan aplikasi tersebut dengan cepat, pengguna dapat pula memakainya kapan dan di mana saja.
Platform yang bisa digunakan pada aplikasi berbasis mobile salah satunya adalah platform Android dengan menggunakan bahasa pemrograman Java. Android merupakan platform yang sedang banyak digemari oleh banyak masyarakat sekarang ini dan Java bersifat multiplatform sehingga bisa digunakan pada berbagai platform.
Berdasarkan  hal-hal diatas, penulis tertarik untuk membuat aplikasi kamus istilah ilmu komputer berbasis mobile menggunakan platform Android dan bahasa pemrograman Java.



1.2.      Batasan Masalah
Agar pembahasan aplikasi yang akan dibuat lebih terarah, maka penulis merasa perlu untuk membuat batasan masalah. Pada aplikasi berbasis mobile ini terdapat 150 istilah yang berkaitan dengan ilmu komputer. Pemakai dapat mencari arti istilah, melihat daftar istilah  dan arti istilah sesuai alfabetis.

1.3.      Tujuan Penulisan
Penulisan ini bertujuan untuk membuat sebuah aplikasi kamus istilah ilmu komputer berbasis mobile, diharapkan pemakai bisa mendapatkan infomasi dengan cepat, tanpa adanya batasan  ruang, dan waktu. Aplikasi ini berguna untuk membantu pemakai mendapatkan informasi istilah-istilah ilmu komputer. 

1.4.      Metode Penulisan
Metode penelitian yang digunakan dalam penulisan penelitian ilmiah ini adalah menggunakan pendekatan metode SDLC (Software Development Life Cycle).

1.   Fase identifikasi : Mengidentifikasi masalah yang ada yaitu kurangnya informasi istilah istilah ilmu komputer sehingga dibutuhkan suatu media informasi istilah-istilah ilmu komputer.

2.   Fase analisis     :  Memecahkan masalah dalam pembuatan aplikasi dan cara kerja dari aplikasi, memecahkan masalah dalam aplikasi ini dengan mempelajari dan mengumpulkan sumber-sumber pustaka dari buku dan internet yang berhubungan dengan Android dan bahasa pemrograman Java. Untuk data istilah ilmu komputer dilakukan pengambilan dari Website Perpustakaan Nasional Republik Indonesia.

3.   Fase perancangan: Merancangkan proses pembuatan aplikasi menggunakan struktur navigasi, dan membuat rancangan tampilan aplikasi.

4.   Fase implementasi:  Menerapkan hasil perancangan. Dengan menggunakan Java Development Kit (JDK) versi jdk-6u32-ea-bin-b03-windows-amd64-29_feb_2012, Eclipse Galileo dan Android SDK Manager sebagai editor dan membangun interface.

5.   Fase uji coba     : Dilakukan menggunakan AVD Android 2.2 pada komputer dengan spesifikasi processor Intel® Celeron® CPU 1007U @ 1.50 GHz 1.50 GHZ, RAM 4GB, harddisk 320 GB, dan VGA 832 MB.

1.5.      Sistematika Penulisan
Pembahasan dalam penulisan ini akan dibagi ke dalam empat bab. Gambaran umum tentang isi dari setiap bab pada penulisan ini akan dijelaskan sebagai berikut:

Bab I :      Pendahuluan, menjelaskan latar belakang masalah, batasan masalah,    tujuan penulisan,  metode penulisan, dan sistematika penulisan.

Bab II :     Landasan Teori, menjelaskan landasan teori tentang kamus, ilmu          komputer, Java, Android, Eclipse IDE, XML, SQLite, dan struktur      navigasi.

Bab III :  Pembahasan, berisi tentang pembahasan aplikasi, mulai dari     perancangan aplikasi,   langkah-langkah pembuatan aplikasi,       pengimplementasian aplikasi, dan cara menjalankan aplikasi.

Bab IV :   Penutup, berisi tentang kesimpulan dan saran yang diperoleh dari                  pembahasan dalam penulisan ini untuk penyempurnaan dan       pengembangan selanjutnya.



2. LANDASAN TEORI

2.1.      Kamus
  Kamus adalah buku yang berguna untuk menerangkan makna kata-kata. Memiliki fungsi untuk membantu seseorang mengenal perkataan terbaru. Selain berfungsi sebagai buku yang menerangkan maksud kata, kamus juga mempunyai pedoman sebagai penjelas riwayat asal-usul suatu perkataan dan juga contoh penggunaan bagi suatu perkataan. Pada hal penjelasan terkadang juga ada pengilustrasian di dalam kamus untuk memperjelas suatu makna kata.

2.2.      Ilmu Komputer

Secara umum, ilmu komputer diartikan sebagai ilmu yang mempelajari baik tentang komputasi, perangkat keras (hardware) maupun perangkat lunak (software). Ilmu komputer mencakup beragam topik yang berkaitan dengan komputer, mulai dari analisis abstrak algoritma sampai subyek yang lebih konkret seperti bahasa pemrograman, perangkat lunak, termasuk perangkat keras. Sebagai suatu disiplin ilmu, ilmu komputer lebih menekankan pada pemrograman komputer, dan rekayasa perangkat lunak (software), sementara teknik komputer lebih cenderung berkaitan dengan hal-hal seperti perangkat keras komputer (hardware).

2.3.      Java
            Java adalah bahasa pemrograman yang dapat dijalankan di berbagai komputer termasuk telepon genggam. Bahasa ini banyak mengadopsi sintaksis yang terdapat pada C dan C++ namun dengan sintaksis model objek yang lebih sederhana serta dukungan rutin-rutin aras bawah yang minimal. Aplikasi-aplikasi berbasis java umumnya dikompilasi ke dalam p-code (bytecode) dan dapat dijalankan pada berbagai Mesin Virtual Java (JVM).
            Java merupakan bahasa pemrograman yang bersifat umum/non-spesifik (general purpose), dan secara khusus didisain untuk memanfaatkan dependensi implementasi seminimal mungkin. Karena fungsionalitasnya yang memungkinkan aplikasi java mampu berjalan di beberapa platform sistem operasi yang berbeda, Java bukan turunan langsung dari bahasa pemrograman manapun. OOP (Object Oriented Programming) adalah cara yang ampuh dalam pengorganisasian dan pengembangan perangkat lunak.

2.4.      Android
Android adalah sistem operasi untuk handphone yang berbasis Linux. Android menyediakan platform terbuka bagi para pengembang untuk menciptakan aplikasi untuk digunakan oleh bermacam perangkat mobile.
Beberapa keunggulan Android dengan platform lain yaitu :
1.    Keterbukaan - Android menyediakan akses ke fungsi dasar perangkat mobile        menggunakan standar panggilan ke API.
2.    Penghancuran perbatasan - Anda dapat menggabungkan informasi dari i        nternet ke dalam telepon, seperti informasi kontak, atau data pada lokasi       geografis.
3.    Cepat dan mudah perkembangannya - Dalam SDK memiliki semua yang       butuhkan oleh pengguna untuk membuat dan menjalankan aplikasi Android,            termasuk simulator dan alat debugging.

2.5.      Eclipse IDE(Integrated Development Environment)
   Integrated Development Environment (IDE) adalah program komputer yang memiliki beberapa fasilitas yang diperlukan dalam pembangunan perangkat lunak. Tujuan dari IDE adalah untuk menyediakan semua utilitas yang diperlukan dalam membangun perangkat lunak. Eclipse adalah sebuah IDE untuk mengembangkan perangkat lunak dan dapat dijalankan di semua platform.

2.6.      XML
XML (Extensible Markup Language) menggunakan elemen yang ditandai dengan tag pembuka (diawali dengan ‘<’ dan diakhiri dengan ‘>’), tag penutup (diawali dengan ‘<’ diakhiri ‘>’) dan atribut elemen (parameter yang dinyatakan dalam tag pembuka misal <form name=”isidata”>). Hanya bedanya, HTML medefinisikan dari awal tag dan atribut yang dipakai didalamnya, sedangkan pada XML pengguna dapat menggunakan tag dan atribut sesuai yang diinginkan.

2.7.      SQLite
      SQLite merupakan sebuah database Open source seperti halnya MySQL, Firebird, dan lain-lain. Dengan ukuran file yang sangat kecil SQLite layak dipertimbangkan untuk pemilihan sebuah database relasional (RDBMS). Di dalam pustaka SQLite terdapat beberapa fasilitas yang dapat kita gunakan untuk memanipulasi data ataupun mendefinisikan data.

2.8.      Struktur Navigasi
Struktur navigasi adalah struktur atau alur dari suatu program. Menentukan struktur navigasi merupakan hal yang sebaiknya dilakukan sebelum membuat suatu aplikasi, karena hal itu menentukan sekaligus menjadi patokan dalam membuat aplikasi.



3. PEMBAHASAN

Dalam bab ini akan membahas secara detail mengenai perancangan aplikasi, mulai dari pembuatan tabel, rancangan sistem dengan struktur navigasi, rancangan tampilan, langkah-langkah pembuatan aplikasi, pengimplementasian aplikasi, dan cara menjalankan aplikasi.



4. PENUTUP

Bab ini menguraikan tentang kesimpulan dan saran yang dapat diambil, menggabungkan teori pada bab 2 dengan hasil yang didapat. Selain itu juga akan diberikan saran-saran yang berkaitan dengan penulisan ini.

Proposal Penulisan Ilmiah

Posted on

Jumat, 13 Juni 2014

Apriliani Fitria Puspawijaya (11111023) dan Diana Nur Amalina (18111492) http://diananuramalina.blogspot.com/
3KA22

Pengertian Penalaran Deduktif
Penalaran Deduktif merupakan suatu proses berpikir (penalaran) yang berpangkal pada suatu peristiwa umum, yang kebenarannya telah diketahui atau diyakini, dan berakhir pada suatukesimpulan atau pengetahuan baru yang bersifat lebih khusus. Metode ini diawali dari pembentukan teori, hipotesis, definisi operasional, instrumen dan operasionalisasi. Dengan kata lain, untuk memahami suatu gejala terlebih dahulu harus memiliki konsep dan teori tentang gejala tersebut dan selanjutnya dilakukan penelitian di lapangan. Dengan demikian konteks penalaran deduktif tersebut, konsep dan teori merupakan kata kunci untuk memahami suatu gejala.

Corak Penalaran Deduktif

1.     Silogisme
Silogisme adalah suatu bentuk proses penalaran yang berusaha menghubungkan dua proposisi (pernyataan) yang berlainan untuk menurunkan suatu kesimpulan atau inferensi yang merupakan proposisi ketiga.
Silogisme terbagi menjadi tiga, yaitu:
a.     Silogisme Kategorial
Argumen deduktif yang mengandung suatu rangkaian yang terdiri dari tiga (dan hanya tiga) proposisi kategorial, yang disusun sedemikian rupa sehingga ada tiga term yang muncul dalam rangkaian pernyataan itu. Contoh :
·       Semua karyawan di perusahaan tersebut merupakan sarjana teknik
·       Semua sarjana teknik mengerti mengenai mesin
·       Jadi, semua karyawan di perusahaan tersebut mengerti mengenai mesin
Contoh lainnya:
·       Semua handphone keluaran terbaru mempunyai fitur canggih
·       Semua fitur canggih memerlukan teknologi terkini
·       Jadi, semua handphone keluaran terbaru mempunyai teknologi terkini
Kaidah silogisme Kategorial:
o   Sebuah silogisme harus terdiri dari tiga proposisi: premis mayor, premis minor, dan konklusi.
o   Dalam ketiga proposisi itu harus ada tiga term, yaitu term mayor (term predikat dari konklusi), term minor (term subyek dari konklusi), dan term tengah (menghubungkan premis mayor dan premis minor)
o   Setiap term yang terdapat dalam kesimpulan harus tersebar atau sudah tersebut dalam premis-premisnya.
o   Bila salah satu premis bersifat universal dan yang lain bersifat partikular, maka konklusinya harus bersifat partikular.
o   Dari dua premis yang bersifat universal, konklusi yang diturunkan juga harus bersifat universal.
o   Jika sebuah silogisme mengandung sebuah premis yang positif dan sebuah premis yang negatif, maka konklusinya harus negatif.
o   Dari dua premis yang negatif tidak dapat ditarik kesimpulan. Sebab itu, silogisme berikut tidak sahih dan tidak logis.
o   Dari dua premis yang bersifat partikular, tidak dapat ditarik kesimpulan yang sahih.
b.     Silogisme Hipotesis
Silogisme hipotetis atau silogisme pengandaian adalah semacam pola penalaran deduktif yang mengandung hipotesis. Silogisme hipotetis bertolak dari suatu pendirian, bahwa ada kemungkinan apa yang disebut dalam proposisi itu tidak ada atau tidak terjadi. Rumus proposisi mayor dari silogisme ini adalah : Jika P, maka Q
Contoh :
·       Premis Mayor  : Jika Ani tidak memiliki dana 6 juta Rupiah untuk membayar kuliahnya, maka Ia akan diberhentikan
·       Premis Minor     : Ani tidak mempunyai uang sebesar 6 juta Rupiah
·       Konklusi              : Sebab itu, Ani akan diberhentikan dari kuliahnya
Contoh lainnya :
·       Premis Mayor     : Jika harga BBM dinaikkan, maka masyarakat akan berdemo besar – besaran
·       Premis Minor     : Harga BBM tidak jadi dinaikkan
·       Konklusi              : Sebab itu, masyarakt tidak jadi berdemo
Walaupun premis mayor bersifat hipotetis, premis minor dan konklusinya tetap bersifat kategorial. Premis mayor sebenarnya mengandung dua pernyataan kategorial. Pada contoh diatas, premis mayor mengandung dua pernyataan kategorial, yaitu hujan tidak turun danpanen akan gagal. Bagian pertama disebut antiseden, sedangkan bagian kedua disebut akibat.
Dalam silogisme hipotetis terkandung sebuah asumsi, yaitu kebenaran anteseden akan mempengaruhi kebenaran akibat, kesalahan anteseden akan mengakibatkan kesalahan pada akibatnya.
c.      Silogisme Disjungtif atau Silogisme Alternatif
Silogisme ini dinamakan Silogisme alternatif, karena:
o   Proposisi mayornya merupakan sebuah proposisi alternatif, yaitu proposisi yang mengandung kemungkinan-kemungkinan atau pilihan-pilihan.
o   Sebaliknya, proposisi minornya adalah proposisi kategorial yang menerima atau menolak salah satu alternatifnya.
o   Konklusi silogisme ini tergantung dari premis minornya. Jika premis minornya menerima satu alternatif, maka alternatif lainnya ditolak. Sebaliknya, jika premis minornya menolak satu alternatif, maka alternatif lainnya diterima dalam konklusi.
Contoh :
·       Premis Mayor   : Kucingku bingung, antara ayam atau ikan yang akan dia makan
·       Premis Minor    : Kucingku memakan ikan
·       Konklusi             : Sebab itu, kucingku tidak memakan ayam
Contoh lainnya :
·       Premis Mayor   : Kunci brankas itu tersimpan di lemari atau tasku
·       Premis Minor    : Kunci brankas itu ternyata ada di tasku
·       Konklusi             : Sebab itu, kunci brankas tidak tersimpan di lemari

2.     Entimem
Silogisme muncul hanya dengan dua proposisi, salah satunya dihilangkan. Walaupun dihilangkan, proposisi itu tetap dianggap ada dalam pikiran dan dianggap diketahui pula oleh orang lain.
Silogisme asli/awal :
·       Premis Mayor    : Karyawan yang lulus seleksi penerimaan pegawai Pegadaian dihubungi oleh bagian SDM
·       Premis Minor     : Adi dihubungi oleh bagian SDM
·       Konklusi              : Sebab itu, Adi adalah Karyawan yang lulus seleksi penerimaan pegawai Pegadaian
·       Entimem             : Adi adalah Karyawan yang lulus seleksi penerimaan pegawai Pegadaian, karena dihubungi oleh bagian SDM
Contoh lainnya:
·       Premis Mayor   : Semua murid yang mau lulus ujian nasional harus mendapat nilai di atas 7
·       Premis Minor    : Chelsea mendapat nilai di atas 7
·       Konklusi              : Maka, Chelsea lulus ujian nasional
·       Entimem             : Chelsea merupakan murid yang lulus ujian nasional karena mendapat nilai di atas 7

3.     Rantai Deduksi
Penalaran yang deduktif dapat berlangsung lebih informal dari entimem. Orang tidak berhenti pada sebuah silogisme saja, tetapi dapat pula merangkaikan beberapa bentuk silogisme yang tertuang dalam bentuk yang informal.
Contoh : 
Jamu pahit rasanya. (hasil generalisasi)
Kali ini saya diberi lagi jamu.
Sebab itu, jamu ini juga pasti pahit rasanya. (deduksi)
Saya tidak suka akan minuman yang pahit rasanya. (induksi: generlisasi)
Ini adalah jamu pahit.
Sebab itu, saya tidak suka jamu ini. (deduksi)
Saya tidak suka minum apa saja, yang tidak saya senangi (induksi: generalisasi)
Saya tidak suka minuman ini.
Sebab itu saya tidak meminumnya. (deduksi)

sumbernya:
http://rivaldiligia.wordpress.com/2012/06/04/tugas-bahasa-indonesia-penalaran-deduktif/
http://miracledy.wordpress.com/2014/03/16/penalaran-deduktif
http://nastasyas.blogspot.com/2014/03/penalaran-deduktif.html


Ragam bahasa dapat didefinisikan sebagai kevariasian bahasa dalam pemakaiannya sebagai alat komunikasi. Kevariasian bahasa ini terjadi karena beberapa hal, seperti: media yang digunakan, hubungan pembicara, dan topik yang dibicarakan.

Berdasarkan media atau sarana pemakaianya, ragam bahasa dibedakan atas :

A. Ragam Bahasa Lisan
Ragam bahasa lisan merupakan ragam bahasa yang diungkapkan melalui media lisan, terkait oleh ruang dan waktu sehingga situasi pengungkapan dapat membantu pemahaman. Bahasa lisan lebih ekspresif di mana mimik, intonasi, dan gerakan tubuh dapat bercampur menjadi satu untuk mendukung komunikasi yang dilakukan.

Ciri-ciri ragam bahasa lisan :
o Langsung
Dalam berkomunikasi, seseorang diharapkan dapat bertemu langsung dengan orang yang diajak bicara.
o Tidak terikat ejaan bahasa Indonesia tetapi terikat situasi pembicaraan
Dalam berkomunikasi, seseorang diharapakan dapat mengetahui situasi dan kondisi dan menggunakan bahasa sehari-hari dengan orang yang diajak bicara.
o Tidak efektif
Dalam berkomunikasi, seseorang terkadang menggunakan bahasa sehari-hari sehingga banyak menggunakan kalimat yang bersifat basa-basi dengan orang yang diajak bicara.
o Kalimatnya pendek-pendek
Dalam berkomunikasi, seseorang terkadang menggunakan bahasa yang menurut orang lain sudah mengetahui maksudnya.
o Kalimat sering terputus dan tidak lengkap
Dalam berkomunikasi, seseorang terkadang menggunakan bahasa yang menurut orang lain sudah mengetahui maksudnya.
o Lagu kalimat situasional
Dalam berkomunikasi, seseorang terkadang harus mengerti situasi yang ada pada dengan orang yang diajak bicara atau keadaan sekitarnya.

Ragam lisan antara lain meliputi :
o Ragam bahasa cakapan
o Ragam bahasa pidato
o Ragam bahasa kuliah
o Ragam bahasa panggung

B. Ragam Bahasa Tulis
Ragam bahasa tulis merupakan ragam bahasa yang pemakaiannya melalui media tulis, tidak terkait ruang dan waktu sehingga diperlukan kelengkapan struktur agar dapat dipahami dengan mudah dan benar. Ragam bahasa tulis memiliki kaidah yang baku dan teratur seperti tata cara penulisan (ejaan), tata bahasa, kosa kata, kalimat dll. Dapat dikatakan ragam bahasa tulis menuntut adanya adanya kelengkapan unsur tata bahasa seperti bentuk kata ataupun susunan kalimat, ketepatan pilihan kata, kebenaran penggunaan ejaan, dan penggunaan tanda baca.

Ciri-ciri ragam bahasa tulis :
o Santun
Memenuhi kaidah-kaidah yang ada dan pilihan kata atau istilah yang tepat dan cermat.
o Efektif
Hemat dan singkat, tetapi kena dalam hal maksud yang diungkapkannya.
o Bahasa disampaikan sebagai upaya komunikasi satu pihak
Karena tak dapat bertemu langsun, maka kita diharapkan dapat mengkomunikasikan segala apa yang ada dengan harapkan orang yang menerima surat tidak salah persepsi atau salah paham.
o Ejaan digunakan sesuai dengan pedoman
Dalam penyampaian bahasa tulis, memang ada pedoman yang harus digunakan atau dipatuhi agar tidak menimbulkkan kesalahan dalam pemakaian atau penulisan kata.
o Penggunaan kosa kata pada dasarnya sudah dibakukan
Dalam hal ini, penggunaan kata atau pilihan kata harus tepat. Walaupun maksud kita sama, namun apabila kita salah dalam memilih kata maka akan menimbulkan kerancuan.

Ragam tulis yang antara lain meliputi:
o Ragam bahasa teknis
o Ragam bahasa undang-undang
o Ragam bahasa catatan
o Ragam bahasa surat

Adapun beberapa hal yang menjadi pembeda antara ragam bahasa tulis dan lisan misalnya:
1. Ragam lisan memerlukan orang kedua sebagai lawan berbicara sedangkan tulis tidak.
2. Fungsi gramatikal (subjek, predikat, objek) tidak selalu dinyatakan dalam ragam lisan karena memang dalam raga ini penggunaan bahasa sudah dibantu dengan situasi/ konteks, mimic pembicara, gerakkan, pandangan dan lain sebagainya, sedangkan dalam ragam tulis hal tersebut tidak ada atau diperlukan fungsi gramatikal yang lebih lengkap agar lawan bicara (pembaca tulisan) dapat memahami informasi yang disampaikan dengan jelas dan benar.
3. Ragam lisan sangat terikat pada kondisi, situasi, ruang dan waktu, sedangkan ragam tulis tidak terikat.
4. Ragam lisan dipengaruhi oleh panjang pendek dan tinggi rendah suara sedangkan ragam tulis dilengkapi dengan tanda baca, huruf capital, huruf miring dll.

Sumber :

postingan ini merupakan tugas softskill Bahasa Indonesia 2 bersama dengan Diana Nur Amalina (http://diananuramalina.blogspot.com)

Ragam Bahasa

Posted on

Jumat, 04 April 2014


Aku seorang siswi Sekolah Menengah Atas (SMA) (1) swasta yang terletak disebuah kawasan padat penduduk di Jakarta Selatan. Sebenarnya sekolahku ini bukanlah sekolah yang istimewa, tidak seperti sekolah negri yang banyak peminatnya. Namun, entah mengapa tetap saja terhitung cukup banyak yang meminati sekolahku ini, (2) khususnya orang-orang yang ingin bergaul. (3) Hampir sebagian siswa baru memilih untuk bersekolah disekolahku ini bukan karena sekolahku memiliki prestasi yang membanggakan melainkan menurut mereka sekolahku merupakan salah satu sekolah bergengsi sebagai ajang untuk bergaul.

Pagi itu tepatnya pada akhir bulan Juni (13.1), aku melakukan apel pagi karena dihari itu adalah hari pertama masuk sekolah. Memang tidak berlangsung lama tetapi matahari semakin terik menyinari seluruh lapangan sekolah hingga seorang siswi baru yang jatuh pingsan, kemudian siswi tersebut langsung dibawa keruangan [Ruang UKS (Unit Kesehatan Siswa)] (5). Serentak perhatian seluruh peserta apel beralih ke siswi yang pingsan tadi hingga terjadi kericuhan. Kericuhan tersebut membuat pembina apel marah. “Semuanya harap tenang! (6)”, kata pembina apel. Akhirnya apel tersebut kembali berjalan seperti semula dan selesai sesuai dengan waktunya.

Setelah apel berakhir, semua siswa kembali kedalam kelasnya masing-masing (7). Karena aku adalah salah satu pengurus UKS maka aku tidak kembali kekelas melainkan aku harus membantu siswi yang pingsan saat apel tersebut. Terlihat dia sudah mulai sadar dan aku langsung memberikannya minum. Dia minum sampai airnya tumpah ke roknya (4.2) kemudian aku berikan dia tisu. Setelah merasa bahwa dia sudah cukup kuat aku mulai mengajak dia untuk berbicara.
“Nama kamu siapa? (14) Tadi kamu sarapan apa sampai bisa pingsan begitu?”, aku bertanya.
“Lika kak, tadi aku hanya sarapan tahu (12.1) kak dan semalam aku kurang tidur makanya jadi seperti ini”, dia menjawab.

Lalu dia menceritakan padaku alasan mengapa dia sampai kurang tidur. Rupanya, keluarganya sedang memiliki masalah. Dia bercerita bahwa Ayah dan Ibunya sering sekali adumulut (8). Dia anak pertama dari dua bersaudara (9) jadi dia yang selama ini menjaga adiknya jika Ayah dan Ibunya sudah mulai bertengkar (10) hebat. Bahkan kata dia, orang tuanya akan menjalani proses perceraian. Setiap malam dia tidak bisa tidur karena memikirkan hal ini. Untuk menghilangkan stressnya, dia cukup menyalakan lagu rock (4.2) keras-keras. Tidak seperti teman-teman yang lainnya, dia bahkan pulang sekolah harus mengurusi adiknya yang masih sd tersebut karena Ayah dan Ibunya yang sudah acuh tak-acuh terhadap dia dan adiknya. Mulai dari mengurusi sekolah adiknya bahkan pekerjaan rumahnyapun dia yang mengerjakan dan betapa lucunya waktu dia menceritakan bahwa adiknya bercita-cita ingin mengajaknya ke bulan (13.2).

Setelah perbincangan yang cukup panjang tersebut akhirnya kami kembali kekelas masing-masing. Selama sebulan ini aku sering sekali berbicara dengannya dan dari yang aku tahu (12.2), dia salah satu orang yang periang tetapi didalam sikap periangnya tersebut tersimpan sesuatu masalah yang cukup rumit dan mungkin aku tidak bisa setegar dia jika aku berada diposisinya. Dia tidak memiliki musuh(11.1) karena sikap dia yang baik bahkan dia sering sekali membuat orang yang disekelilingnya tertawa dan ingin menjadi sahabatnya (11.2).

Keterangan.
(1)   Tanda Kurung ( () ) : Mengapit makna dari singkatan
(2)  Tanda Koma ( , ) : Sebagai penanda jeda satu kalimat
(3)  Tanda Titik ( . ) : Sebagai penanda akhir kalimat
(4)  4.1 (rok) merupakan Homofon dari 4.2 (rock)
(5)  Kurung Siku ( [] ) : Mengapit kata yang sudah berada dalam kurung
(6)  Tanda Seru ( ! ) : Tanda emosi atau perintah
(7)  Tanda Penghubung ( - ) : Tanda untuk menghubungkan suatu kalimat
(8)  Adumulut merupakan kalimat Konotasi
(9)  Dia anak pertama dari dua bersaudara merupakan kalimat Denotasi
(10)  Bertengkar merupakan sinonim dari adumulut (8)
(11)  11.1 (Musuh) merupakan antonim dari 11.2 yaitu sahabat
(12)  12.1 (Tahu) yang berarti makanan merupakan Homograf dari 12.2 (Tahu) yang berarti mengetahui
(13)  13.1 (Bulan) yang berarti bulan pada kalender merupakan Homonim dari 13.2 (Bulan) yang berarti bulan diluar angkasa
(14)  Tanda tanya ( ? ) : Sebagai penanda sebuah pertanyaan

Masa-masa Putih Abu-abu

Posted on

Selasa, 26 November 2013