Warga negara merupakan unsur terpenting dalam hal terbentuknya negara karena tidak akan ada negara tanpa warga negara. Warga negara dan negara merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Keduanya saling berkaitan dan memiliki hak dan kewajibannya masing - masing yang merupakan hubungan timbal balik antara keduanya. Salah satunya, kita sebagai WNI (Warga Negara Indonesia) mempunyai kewajiban untuk menjaga nama baik negara dan membela negara kita sampai titik darah penghabisan, sedangkan kewajiban negara (dalam hal ini yang dimaksudkan adalah pemerintah) ialah untuk memenuhi dan mensejahterakan kehidupan warga negaranya agar mendapatkan kehidupan yang layak. Sementara itu, warga negara memiliki hak untuk mendapatkan kesejahteraan dan penghidupan yang layak dari negara yang notabene adalah kewajiban dari negara, sedangkan negara memiliki hak untuk mendapatkan pembelaan dan penjagaan nama baik dari warga negara itu sendiri. Selain itu, tentunya kita sebagai warga negara yang baik dan mencintai NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia) diwajibkan untuk mematuhi peraturan yang telah dibuat pemerintah dan hukum - hukum yang berlaku agar terciptanya nilai keteraturan, keamanan, dan kedamaian di negara ini.

Hubungan Warga Negara dan Negara

Posted on

Rabu, 11 Januari 2012

Keluarga dan masyarakat sangat erat kaitannya dalam pembentukan karakter individu. Dimana keluarga adalah media sosialisasi pertama bagi manusia. Dalam pertumbuh kembangan suatu individu tak dapat terlepas dari peranan keluarga dalam membentuk pertahanan terhadap serangan penyakit sosial sejak dini. Orang tua yang sibuk dengan kegiatannya sendiri atau bekerja, cenderung hanya memikirkan keburuhan lahiriah bagi sang anak tanpa mempedulikan bagaimana perkembangan anaknya merupakan awal dari rapuhnya pertahanan anak terhadap serangan penyakit sosial. Kebutuhan terpenting bagi anak adalah kebutuhan nonmateri seperti kasih sayang, perhatian secara langsung, dan orang tua seharusnya bisa menjadi teman sekaligus sandaran anak untuk menumpahkan perasaannya agar anak tidak melakukan perbuatan yang menyimpang.  Oleh karena itu, sangatlah dibutuhkan suatu keluarga yang harmonis oleh suatu individu dalam perkembangannya.

Selain keluarga, perilaku masyarakat disekitarnya pun turut berperan dalam menentukan pola perkembangan suatu individu. Masyarakat merupakan jaringan perhubungan antara berbagai individu. Dari segi pelaksanaan, itu berati sesuatu yang dibuat – atau tidak dibuat oleh sekumpulan orang. Jika saja kita berada di didalam lingkungan yang rusak, cepat atau lambat kita akan terbiasa dengan hal buruk yang dilakukan masyarakat sekitar kita bahkan kita dapat mengikuti hal buruk tersebut karena kita sudah terbiasa dengan hal itu. Contohnya saja seperti kebiasaan membuang sampah sembarangan, mungkin pada awalnya kita adalah pribadi yang bersih dan selalu membuang sampah di tempat sampah, namun pada suatu ketika, kita ingin membuang sampah tetapi tidak dapat menemukan tempat sampah. Dikarenakan kita melihat masyarakat sekitar kita dengan seenaknya membuang sampah disembarang tempat, secara tidak sadar kita akan mengikuti kebiasaan buruk masyarakat di lingkungan kita dan menjadi terbiasa dengan hal itu. Kebiasaan – kebiasaan buruk tersebut atau bisa dibilang perilaku yang menyimpang, dapat terjadi salah satunya dikarenakan tidak ada sangsi yang tegas dari pemerintah.

Bisa dapat disimpulkan bahwa peran keluarga dan masyarakat hal yang terpenting dalam pembentukan karakter individu. Oleh karena itu, untuk mengembangkan eksistensinya sebagai manusia, maka individu membutuhkan keluarga dan masyarakat, yaitu media di mana individu dapat mengekspresikan aspek sosialnya serta menumbuhkembangkan perilakunya. Karena tak dapat dipungkiri bahwa perilaku sosial suatu individu tersebut bergantung dari keluarga dan masyarakat disekitarnya. Keluarga sebagai lingkungan pertama seorang individu memiliki peran paling besar dalam pembentukan sikap suatu individu, sedangkan masyarakat sebagai media sosialisasi seorang individu dalam menyampaikan ekspresinya secara lebih luas. Sehingga dapat menjadi suatu tolak ukur apakah sikap yang dilakukannya benar atau salah.

Pemuda adalah generasi penerus bangsa dari generasi terdahulu. Anggapan itu merupakan beban moral yang ditanggung pemuda untuk memenuhi tanggung jawab yang telah diberikan oleh generasi tua. Selain memikul beban tersebut, pemuda juga dihadapkan pada persoalan - persoalan kenakalan remana yang diantaranya ketidakpatuhan anak kepada orang tua/guru, kecanduan obat-obatan terlarang, seks bebas dan masalah lainnya. Seringkali pemuda dibenturkan dengan “nilai” yang telah ada jika mereka berkelakuan di luar nilai tersebut.

Munculnya jurang pemisah antara generasi muda dan generasi tua merupakan akibat dari pengaruh globalisasi yang mengakibatkan terjadinya benturan dua kebudayaan yaitu tradisional dan modern. Dimana budaya tradisional itu dianut oleh generasi tua terdahulu dan budaya modern yang dikembangkan oleh generasi muda dengan tujuan untuk mengadakan perubahan - perubahan kearah yang lebih baik dari generasi sebelumnya. Perkembangan dengan tidak adanya kematangan/kedewasaan mental dan arah yang baik, dapat menimbulkan masalah seperti pada penyalahgunaan telepon genggam (mobile phone) atau sering juga disebut HP. Dengan adanya pembaharuan-pembaharuan dari alat komunikasi ini menjadikan fungsi HP menjadi barang prestise dalam pergaulan anak muda. Jika tidak menggunakan HP model baru, dapat dikatakan “kuno” atau “ketinggalan jaman”. Selain itu, semakin canggihnya fungsi HP, jika tidak dapat digunakan dengan sebaik – baiknya, HP dapat disalah gunakan untuk hal – hal yang seharusnya tidak dibenarkan untuk dilakukan.

Dalam hal ini, orang tua mempunyai kebiasaan dalam mendidik anak yaitu dengan menurunkan nilai - nilai budaya dan penerusan kebiasaan mereka. Pemuda seringkali mengambil langkah sendiri dalam menjalani hidupnya tanpa menghiraukan pendidikan yang telah diberikan oleh orang tuanya. Hal ini dikarenakan adanya anggapan dari pemuda bahwa apa yang diberikan oleh orang tua adalah suatu hal yang kuno atau ketinggalan jaman. Adanya perbedaan situasi kehidupan dan banyaknya perubahan - perubahan yang terjadi, memposisikan pendidikan yang telah diberikan oleh orang tua sudah kuno atau ketinggalan jaman. Selain itu, lebih tingginya pendidikan anak dari orang tua memberikan keyakinan bahwa anak dapat memutuskan jalan hidupnya sendiri karena mereka merasa lebih mengerti dan lebih tahu bagaimana menjalani hidupnya sendiri. Tetapi walau bagaimanapun juga lingkungan keluarga adalah media sosialisasi pertama bagi semua orang, maka peran orang tua sangatlah penting bagi pemuda. Hal – hal diatas bisa saja tidak terjadi pada pemuda jika saja orang tua dapat memberikan pengertian yang dapat dimengerti pemuda agar dapat memilih mana yang baik dan mana yang tidak baik.

Pemuda dan Sosialisasi

Posted on

Selasa, 03 Januari 2012


Sometimes, when I wake up in the morning and feel bored with all my routines, I just close my eyes and feel the light, the light of the sun.

Thank God Created A Sunlight

Posted on

Minggu, 27 November 2011

Kebudayaan masyarakat Indonesia sangat beragam. Budaya lokal, daerah, hingga nasional, semuanya menyatu hingga menjadi budaya Indonesia yang beragam penuh warna.  Tidak hanya kebudayaannya saja, tetapi masyarakatnya pun beraneka ragam. Mulai dari bahasa, kesenian, jenis kulit, hingga sejarah yang ada di daerah masing – masing pun berbeda. Meski kaya dengan budaya yang beraneka ragam tersebut, Indonesia berhasil bersatu yaitu melalui moto atau semboyan “Bhinneka Tunggal Ika” yang artinya berbeda – beda tetapi satu jua. Secara mendalam, Bhinneka Tunggal Ika memiliki makna, walaupun di Indonesia terdapat banyak suku, bahasa, kesenian, agama, dan lain sebagainya, namun tetap pada satu kesatuan yang sebangsa dan setanah air Indonesia.

Tetapi, seiring berubahnya zaman, kecintaan masyarakat Indonesia kepada kebudayaan Indonesia kian hari kian menipis. Hal ini salah satunya disebabkan oleh arus globalisasi yang mempengaruhi masuknya kebudayaan asing ke Indonesia. Oleh karena itu, terjadilah percampuran antara budaya Indonesia dan budaya asing yang pada akhirnya mendarah daging menjadi budaya Indonesia. Dalam hal ini, masyarakat Indonesia khususnya generasi penerus bangsa yaitu para pemuda dan anak bangsa, diharapkan agar mampu mengantisipasi dan memilah – milah terhadap budaya asing yang masuk ke Indonesia karena banyak sekali budaya asing yang tidak sesuai dengan kebudayaan Indonesia yang akan menimbulkan dampak buruk terhadap eksistensi budaya Indonesia itu sendiri. Selain itu, kebudayaan asing juga dapat menimbulkan penyimpangan yang dilakukan oleh segelintir masyarakat Indonesia khususnya kaum pemuda yang mengadopsi cara hidup ala barat. Oleh karena itu, kita sebagai generasi penerus bangsa harus mempunyai rasa nasionalisme yang tinggi dan berusaha untuk membuat Indonesia menjadi negara yang lebih baik lagi.

Kebudayaan Masyarakat Indonesia

Posted on

Senin, 07 November 2011

Ilmu Sosial Dasar (ISD) adalah suatu program pelajaran baru yang dikembangkan di Perguruan tinggi. Pengembangan Ilmu Sosial Dasar ini sejalan dengan realisasi pengembangan ide dan pembaruan sistem pendidikan yang bersifat dinamis dan inovatif.

Ilmu-ilmu sosial dasar (ISD) adalah ilmu - ilmu sosial yang dipergunakan dalam pendekatan, sekaligus sebagai sarana jalan keluar untuk mencari pemecahan masalah - masalah sosial yang berkembang dalam kehidupan masyarakat. Berbagai konsep dasar atau pengetahuan dasar ilmu - ilmu sosial secara interdisipliner atau multidisipliner dipergunakan sebagai alat bagi pendekatan dan pemecahan/solusi persoalan - persoalan yang timbul dan berkembang dalam masyarakat.

Ilmu Sosial Dasar (ISD) memberikan dasar - dasar pengetahuan sosial kepada para mahasiswa yang tujuannya adalah agar muncul kepekaan dan respons sosial dalam menghadapi dan memberi alternatif pemecahan masalah - masalah sosial dalam kehidupan masyarakat.

ISD adalah pengetahuan yg menelaah masalah - masalah sosial, khususnya masalah - masalah yang diwujudkan oleh masyarakat Indonesia, dengan menggunakan Teori - teori (fakta, konsep, teori) yang berasal dari berbagai bidang pengetahuan keahlian dalam lapangan ilmu-ilmu sosial, seperti:
  • ·     Geografi Sosial, 
  •       Sosiologi,
  •       Antropologi Sosial, 
  •       Ilmu Politik, 
  •       Ekonomi, 
  •       Psikologi Sosial, dan 
  •       Sejarah.
Sasaran studi Ilmu Sosial Dasar (ISD) adalah aspek – aspek yang paling dasar yang ada dalam kehidupan manusia sebagai makhluk sosial dan masalah – masalah yang terwujud dari padanya.
 
Materi Ilmu Sosial Dasar (ISD) terdiri atas masalah-masalah sosial. Untuk dapat menelaah masalah - masalah sosial, hendaknya terlebih dahulu kita dapat mengindentifikasi kenyataankenyataan sosial dan memahami sejumlah konsep sosial tertentu. Sehingga dengan demikian bahan pelajaran Ilmu Sosial Dasar (ISD) dapat dibedakan atas tiga golongan, yaitu: 
  • Kenyataan - kenyataan sosial tersebut sering ditanggapi secara berbeda oleh para ahli ilmu - ilmu sosial, karena adanya perbedaan latar belakang disiplin ilmu atau sudut pandangannya. Dalam Ilmu Sosial Dasar kita menggunakan pendekatan interdisiplin/multidisiplin. 
  • Konsep - konsep  sosial atau pengertian - pengertian tentang kenyataan­ - kenyataan sosial dibatasi pada konsep dasar atau elementer saja yang sangat diperlukan untuk mempelajari masalah-masalah sosial yang dibahas dalam Ilmu Pengetahuan sosial.Sebagai contoh dari konsep dasar semacam itu misalnya konsep “keanekaragaman” dan kosep “Kesatuan sosial”. Bertolak dari kedua konsep tersebut di atas, maka dapat kita pahami dan sadari bahwa di dalam masyarakat selalu terdapat : Masalah - masalah sosial yang timbul dalam masyarakat, biasanya terlibat dalam berbagai kenyataan - kenyataan sosial yang antara satu dengan lainnya saling berkaitan.


Referensi : http://andryyuliyanto.wordpress.com/2011/10/06/ilmu-sosial-dasar/