Masyarakat pedesaan dan perkotaan adalah dua komunitas yang saling membutuhkan. Di antara keduanya terdapat hubungan yang erat dan bersifat ketergantungan karena keduanya saling membutuhkan satu sama lain. Masyarakat kota bergantung pada masyarakat desa dalam memenuhi kebutuhannya akan bahan - bahan pangan seperti beras, sayur- mayur, daging dan ikan. Desa juga merupakan sumber tenaga pekerja kasar bagi jenis - jenis pekerjaan tertentu yang dibutuhkan untuk bekerja di kota. Mereka ini biasanya adalah pekerja - pekerja musiman. Pada saat musim tanam, mereka sibuk bekerja di sawah dan selagi menunggu masa panen, mereka mencari pekerjaan lain untuk mencari tambahan penghasilan.

Sebaliknya, masyarakat kota menghasilkan barang-barang yang diperlukan juga oleh masyarakat yang berada di desa seperti pakaian, alat elektronik, obat-obatan, dan lain sebagainya. Di kota juga tersedia tenaga kerja yang siap melayani dalam bidang jasa yang dibutuhkan oleh masyarakat desa, misalnya saja tenaga - tenaga di bidang medis atau kesehatan, permesinan, elektronika dan alat transportasi. Serta tenaga yang mampu memberikan bimbingan dalam upaya peningkatan hasil budi daya pertanian, peternakan ataupun perikanan darat.

Terlepas dari apakah itu masyarakat desa atau masyarakat kota, yang perlu diperhatikan adalah kehidupan didalammya yang harus dijalankan dengan toleransi dan menghargai perbedaan satu dengan yang lainnya. Dikarenakan adat, kebiasaan, pola interaksi dan tingkat loyalitas antara masyarakat desa dan  masyarakat sangat berbeda. Dengan demikian, kita sebagai masyarakat kota tidak boleh memandang rendah atau memandang sebelah mata masyarakat desa karena jika tidak ada masyarakat desa kita tidak dapat memperoleh bahan - bahan yang penting sebagai penunjang kelangsungan hidup kita.

Hubungan Masyarakat Desa dan Masyarakat Kota

Posted on

Rabu, 11 Januari 2012

Pelapisan sosial dan kesamaan derajat mempunyai hubungan yang saling bertolak belakang. Pelapisan sosial adalah perbedaan tinggi dan rendahnya suatu kedudukan  seseorang dalam kelompoknya, bilamana dibandingkan dengan posisi seseorang maupun kelompok lainnya. Pelapisan sosial ini muncul di masyarakat dikarenakan gengsi kemasyarakatan sehingga menimbulkan lapisan – lapisan atau kelas - kelas di dalam masyarakat. Tinggi atau rendahnya lapisan sosial seseorang ditentukan oleh berbagai macam perbedaan, diantaranya kekayaan di bidang ekonomi, ilmu pengetahuan, serta kekuasaan dan wewenang. Pelapisan sosial ini dapat memberikan dampak yang buruk karena dapat menimbulkan konflik antar sesama masyarakat, hal ini membuat terjadiya perpecahan yang berujung pada disintegrasi bangsa.

Adapun kesamaan derajat adalah sesuatu yang membuat semua masyarakat berada di dalam kelas yang sama. Artinya tidak adanya perbedaan  antar sesama masyarakat dan semua masyarakat memiliki hak yang sama sebagai warga negara, sehingga runtuhlah dinding pembatas antara kalangan atas dan kalangan bawah atau biasa disebut antara si kaya dan si miskin karena pada hakekatnya di mata Tuhan YME derajat semua manusia itu sama, yang membedakannya hanyalah tingkat keimanan dan ketaqwaan kepada-Nya.

Warga negara merupakan unsur terpenting dalam hal terbentuknya negara karena tidak akan ada negara tanpa warga negara. Warga negara dan negara merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Keduanya saling berkaitan dan memiliki hak dan kewajibannya masing - masing yang merupakan hubungan timbal balik antara keduanya. Salah satunya, kita sebagai WNI (Warga Negara Indonesia) mempunyai kewajiban untuk menjaga nama baik negara dan membela negara kita sampai titik darah penghabisan, sedangkan kewajiban negara (dalam hal ini yang dimaksudkan adalah pemerintah) ialah untuk memenuhi dan mensejahterakan kehidupan warga negaranya agar mendapatkan kehidupan yang layak. Sementara itu, warga negara memiliki hak untuk mendapatkan kesejahteraan dan penghidupan yang layak dari negara yang notabene adalah kewajiban dari negara, sedangkan negara memiliki hak untuk mendapatkan pembelaan dan penjagaan nama baik dari warga negara itu sendiri. Selain itu, tentunya kita sebagai warga negara yang baik dan mencintai NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia) diwajibkan untuk mematuhi peraturan yang telah dibuat pemerintah dan hukum - hukum yang berlaku agar terciptanya nilai keteraturan, keamanan, dan kedamaian di negara ini.

Keluarga dan masyarakat sangat erat kaitannya dalam pembentukan karakter individu. Dimana keluarga adalah media sosialisasi pertama bagi manusia. Dalam pertumbuh kembangan suatu individu tak dapat terlepas dari peranan keluarga dalam membentuk pertahanan terhadap serangan penyakit sosial sejak dini. Orang tua yang sibuk dengan kegiatannya sendiri atau bekerja, cenderung hanya memikirkan keburuhan lahiriah bagi sang anak tanpa mempedulikan bagaimana perkembangan anaknya merupakan awal dari rapuhnya pertahanan anak terhadap serangan penyakit sosial. Kebutuhan terpenting bagi anak adalah kebutuhan nonmateri seperti kasih sayang, perhatian secara langsung, dan orang tua seharusnya bisa menjadi teman sekaligus sandaran anak untuk menumpahkan perasaannya agar anak tidak melakukan perbuatan yang menyimpang.  Oleh karena itu, sangatlah dibutuhkan suatu keluarga yang harmonis oleh suatu individu dalam perkembangannya.

Selain keluarga, perilaku masyarakat disekitarnya pun turut berperan dalam menentukan pola perkembangan suatu individu. Masyarakat merupakan jaringan perhubungan antara berbagai individu. Dari segi pelaksanaan, itu berati sesuatu yang dibuat – atau tidak dibuat oleh sekumpulan orang. Jika saja kita berada di didalam lingkungan yang rusak, cepat atau lambat kita akan terbiasa dengan hal buruk yang dilakukan masyarakat sekitar kita bahkan kita dapat mengikuti hal buruk tersebut karena kita sudah terbiasa dengan hal itu. Contohnya saja seperti kebiasaan membuang sampah sembarangan, mungkin pada awalnya kita adalah pribadi yang bersih dan selalu membuang sampah di tempat sampah, namun pada suatu ketika, kita ingin membuang sampah tetapi tidak dapat menemukan tempat sampah. Dikarenakan kita melihat masyarakat sekitar kita dengan seenaknya membuang sampah disembarang tempat, secara tidak sadar kita akan mengikuti kebiasaan buruk masyarakat di lingkungan kita dan menjadi terbiasa dengan hal itu. Kebiasaan – kebiasaan buruk tersebut atau bisa dibilang perilaku yang menyimpang, dapat terjadi salah satunya dikarenakan tidak ada sangsi yang tegas dari pemerintah.

Bisa dapat disimpulkan bahwa peran keluarga dan masyarakat hal yang terpenting dalam pembentukan karakter individu. Oleh karena itu, untuk mengembangkan eksistensinya sebagai manusia, maka individu membutuhkan keluarga dan masyarakat, yaitu media di mana individu dapat mengekspresikan aspek sosialnya serta menumbuhkembangkan perilakunya. Karena tak dapat dipungkiri bahwa perilaku sosial suatu individu tersebut bergantung dari keluarga dan masyarakat disekitarnya. Keluarga sebagai lingkungan pertama seorang individu memiliki peran paling besar dalam pembentukan sikap suatu individu, sedangkan masyarakat sebagai media sosialisasi seorang individu dalam menyampaikan ekspresinya secara lebih luas. Sehingga dapat menjadi suatu tolak ukur apakah sikap yang dilakukannya benar atau salah.

Pemuda adalah generasi penerus bangsa dari generasi terdahulu. Anggapan itu merupakan beban moral yang ditanggung pemuda untuk memenuhi tanggung jawab yang telah diberikan oleh generasi tua. Selain memikul beban tersebut, pemuda juga dihadapkan pada persoalan - persoalan kenakalan remana yang diantaranya ketidakpatuhan anak kepada orang tua/guru, kecanduan obat-obatan terlarang, seks bebas dan masalah lainnya. Seringkali pemuda dibenturkan dengan “nilai” yang telah ada jika mereka berkelakuan di luar nilai tersebut.

Munculnya jurang pemisah antara generasi muda dan generasi tua merupakan akibat dari pengaruh globalisasi yang mengakibatkan terjadinya benturan dua kebudayaan yaitu tradisional dan modern. Dimana budaya tradisional itu dianut oleh generasi tua terdahulu dan budaya modern yang dikembangkan oleh generasi muda dengan tujuan untuk mengadakan perubahan - perubahan kearah yang lebih baik dari generasi sebelumnya. Perkembangan dengan tidak adanya kematangan/kedewasaan mental dan arah yang baik, dapat menimbulkan masalah seperti pada penyalahgunaan telepon genggam (mobile phone) atau sering juga disebut HP. Dengan adanya pembaharuan-pembaharuan dari alat komunikasi ini menjadikan fungsi HP menjadi barang prestise dalam pergaulan anak muda. Jika tidak menggunakan HP model baru, dapat dikatakan “kuno” atau “ketinggalan jaman”. Selain itu, semakin canggihnya fungsi HP, jika tidak dapat digunakan dengan sebaik – baiknya, HP dapat disalah gunakan untuk hal – hal yang seharusnya tidak dibenarkan untuk dilakukan.

Dalam hal ini, orang tua mempunyai kebiasaan dalam mendidik anak yaitu dengan menurunkan nilai - nilai budaya dan penerusan kebiasaan mereka. Pemuda seringkali mengambil langkah sendiri dalam menjalani hidupnya tanpa menghiraukan pendidikan yang telah diberikan oleh orang tuanya. Hal ini dikarenakan adanya anggapan dari pemuda bahwa apa yang diberikan oleh orang tua adalah suatu hal yang kuno atau ketinggalan jaman. Adanya perbedaan situasi kehidupan dan banyaknya perubahan - perubahan yang terjadi, memposisikan pendidikan yang telah diberikan oleh orang tua sudah kuno atau ketinggalan jaman. Selain itu, lebih tingginya pendidikan anak dari orang tua memberikan keyakinan bahwa anak dapat memutuskan jalan hidupnya sendiri karena mereka merasa lebih mengerti dan lebih tahu bagaimana menjalani hidupnya sendiri. Tetapi walau bagaimanapun juga lingkungan keluarga adalah media sosialisasi pertama bagi semua orang, maka peran orang tua sangatlah penting bagi pemuda. Hal – hal diatas bisa saja tidak terjadi pada pemuda jika saja orang tua dapat memberikan pengertian yang dapat dimengerti pemuda agar dapat memilih mana yang baik dan mana yang tidak baik.

Pemuda dan Sosialisasi

Posted on

Selasa, 03 Januari 2012